Evans Dimas Discussione iniziata da Evans Dimas 5 mesi fa

Ibadah bisa berupa kata-kata atau perbuatan. Ada sesuatu yang bersifat ibadah dan ada pula yang disembunyikan. Cinta dan kesenangan Tuhan terhadap sesuatu dapat dilihat dari perintah dan larangannya. Ketika Tuhan memerintahkan sesuatu maka sesuatu dicintai dan dilestarikan. Dan sebaliknya, ketika Tuhan melarang sesuatu maka itu berarti bahwa Tuhan tidak mencintai dan tidak senang dengannya. Jadi ibadah itu luas. Di antara bentuk-bentuk ibadah adalah doa, pengorbanan, amal, meminta bantuan atau perlindungan, dan sebagainya. Dari pengertian ini maka isti'anah atau meminta bantuan juga mencakup ruang lingkup istilah ibadah. Lalu apa alasan atau hikmah di balik penyebutan isti'anah setelah penyebutan kata ibadah dalam ayat ini?

Image result for site:blogspot.com

Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahulah mengatakan, "Sebelum ibadah pra-Islam ini adalah metode menyebutkan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih spesifik. Dan juga dalam rangka memberikan prioritas pada hak-hak Allah ta'ala pada hak-hak para hamba-Nya .... "

Dia juga berkata, "Menciptakan ibadat sejati dan kebenaran kepada Allah adalah cara yang akan menuntun pada kebahagiaan abadi. Dia adalah sarana untuk keselamatan dari segala bentuk kejahatan. Jadi tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara dari dua hal ini. Dan ibadah hanya dianggap benar ketika datang ke Rasulullah 'alaihi wa sallam dan dimaksudkan hanya untuk mengharapkan wajah Allah (tulus) .Dengan dua hal ini sesuatu dapat disebut ibadah. Sedangkan penyebutan isti'anah setelah kata ibadah ketika isti'anah juga merupakan bagian dari ibadah maka alasannya adalah karena hamba jadi membutuhkan bantuan Allah ta'ala dalam melaksanakan semua ibadahnya. Jika dia tidak mendapatkan bantuan dari Tuhan maka keinginannya untuk melakukan hal-hal diperintahkan dan dijauhkan dari hal-hal terlarang tidak akan pernah tercapai. "(Taisir Karimir Rahman, p. 39 ).

Arti: "Tunjukkan padaku, bimbing kami dan coba kami untuk memastikan mustaqiim shirathal yang merupakan jalan lurus." Jalan lurus adalah jalan yang jelas dan jelas dan menuntun orang-orang yang berjalan di atasnya untuk mencapai Tuhan dan berhasil mencapai Firdaus. Jalan lurus (shirathal mustaqiim) adalah untuk memahami kebenaran dan mempraktikkannya. Karena itu Tuhan, tuntunlah kami ke jalan dan ketika kami berjalan di atasnya. Yang dimaksud dengan tuntunan ke jalan lurus adalah hidayah untuk bisa memeluk Islam dan meninggalkan semua agama lain. Adapun pedoman tentang jalan lurus adalah pedoman untuk bisa memahami dan mempraktikkan detail ajaran Islam. Dengan demikian doa adalah salah satu doa yang paling lengkap dan merangkum berbagai manfaat dan manfaat bagi seorang hamba. Itulah sebabnya setiap orang berkewajiban untuk berdoa shalat ini dalam setiap rakaat shalat yang dilakukannya. Tidak,bukan karena fakta bahwa hamba sangat membutuhkan doa ini (lihat Taisir Karimir Rahman, halaman 39 ).

 Siapa orang yang disukai Allah? Dalam ayat lain disebutkan bahwa mereka adalah para nabi, orang-orang yang jujur ​​dan benar, para martir Islam yang mati syahid dan suci. Termasuk dalam ruang lingkup ungkapan 'yang dianugrahi' adalah setiap orang yang diberikan karunia iman kepada Allah ta'ala, mengenalnya dengan baik, tahu apa yang dicintainya, memahami apa yang salah, selain itu ia juga mendapatkan taufik untuk melakukan hal-hal yang mencintai dan meninggalkan hal-hal yang membuat Tuhan murka. Inilah jalan yang akan menuntun saya menuju keridhaan Allah ta'ala. Inilah jalan Islam. Islam didirikan atas dasar iman, pengetahuan, amal dan disertai dengan tidak melakukan tindakan syirik dan ketidakpatuhan. Maka dengan ayat ini kita kembali sadar bahwa Islam yang kita buru-buru adalah rahmat Allah ta'ala.Dan untuk dapat menjalankan Islam dengan baik, kita juga membutuhkan panutan yang bisa dimodelkan (lihat Aisarut Tafaasir, halaman 12 ). 

Orang yang hancur adalah orang yang tahu kebenaran tetapi tidak mau mempraktekkannya. Contohnya adalah orang Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang-orang yang tersesat adalah mereka yang tidak mempraktekkan kebenaran karena ketidaktahuan mereka dan kesalahan mereka. Contohnya adalah Nazarene dan semacamnya. Jadi dalam ayat ini kita telah termotivasi dan termotivasi untuk mengikuti jalan orang benar. Ayat ini juga memperingatkan kita untuk menjauh dari jalan orang yang sesat dan sesat (lihat Aisarut Tafaasir, hal. 13 dan halaman Taisir Karimir Rahman 39 ).

Risposte
Devi essere un membro di questo gruppo prima di poter partecipare a questa discussione.
 

-

 

Login